Sunday, 19 August 2012

Philosophy

This is a repost from 11 November 2010. Now I realised how productive I was before, in writing lengthy prose of just plain thoughts, with no boundary being attached. At that time, I signed up to philosophical studies certificate at Warwick Long Life Learning Centre. One of the decisions that I am so glad, had picked. I miss learning philosophy in a proper classroom environment, with fellow students and lecturer arguing about stuff that doesn't really make any sense, but always rejuvenate the mind. :)

-----------------------------------------------------------------------------------

Biji matanya gue sudah mengantuk tiada taranya lagi, kepalanya pun sudah pening-pening lalat ini, tapi akan coba gue karangkan sesuatu, bagi membuat obat jiwa untuk diri-diri.

Dalam kepelbagaian isu dan masalah yang sering kita hadapi dalam seharian, kadang-kadang kamu berhasil menemukan jalan keluarnya, terkadang pula kamu tersesat ke lorong mati, dan ada kalanya kamu berhenti seketika pada persimpangan masalah itu, berfikir sejenak dan kemudiannya memutuskan untuk meninggalkan persimpangan itu buat sementara waktu dan berpatah kembali ke persimpangan utama masalah. (Sweeping them under the carpet)

Manusia itu aku percaya satu makhluk yang tidak rasional pada waktu-waktunya. Tahap pertimbangan untuk membuat keputusan itu amat berbeda mengikut jarak usia, ilmu pengetahuan, dan kestabilan mindanya. Justeru, ada masanya manusia gagal dalam pertimbangan dalam membuat costs & benefits analysis.

Umumnya pada usia remaja dan awal dewasa, tahap permikiran masih lagi cetek dan terkongkong oleh pelbagai perkara. Kamu lebih tertumpu pada kesan jangka pendek, keseronokan sementara dan jarang sekali untuk memberi barang sedikit penelitian pada setiap langkah yang kamu jejak.

Contohnya, kamu berasa begitu rendah diri, tiada yakin dengan keupayaan diri sendiri dan sering kali sahaja kamu membanding-bandingkan diri kamu dengan teman-temanmu yang pada pikiranmu amatlah bernasib baik hidupnya.

Baru tadi aku terdetik di kepala, jikalau setiap manusia ini ada masa silamnya, masa depannya dan juga detik masa yang sedang berjalan, apakah tidak mungkin jika setiap manusia itu senantiasa hidup dalam pertengahan antara dua kondisi yang amat berbeda?

Apabila kamu berasa murung, rendah diri, tidak ceria, patah hati dan sebagainya. Cuba kamu pikirkan tentang manusia yang mempunyai kondisi yang jauh lebih memilukan daripada kamu dan mereka masih jua bisa melayari kehidupannya seumpama biasa sahaja. Apa lagi alasanmu? Wahai kanak-kanak yang sering kali merengek, dan mengalirkan air mata untuk menangisi hidup yang tidak adil, ngomongmu? Memalukan!!!

Dan bila pula kamu terbuai di alam fana, gembira berterbangan ke kayangan, bersukaria, dan bergelak ketawa. Cuba pula kamu pikirin tentang awan-awan yang letaknya jauh lagi tinggi dari awan-awan yang hanya selama ini, kamu perhatikan daripada kaca matamu yang cetek itu? Apakah mereka begitu sombong dan tidak lupakan diri seperti jua kamu? Apakah mereka sudah bisa diibaratkan bak kacang lupakan kulit, seakan kamu?

Kamu persoalkan ini semua. Persoalkan apa jua yang ada dihadapanmu. Persoalkan hitam atau putih, besi atau emas, enteng atau penting. Asal kamu tidak membiarkan sahaja kepala otakmu menderita tanpa sebarang ransangan. Jangan terus kamu menyetujui barang sesuatu tanpa menyelidiki terlebih dahulu.

Aku, kamu dan mereka jua punya sejarah. Kita semua pasti punya masa depan, jika Tuhan masih membenarkan. Dan cabarannya adalah masa sekarang yang perlu kamu kemudikan, berpandukan sejarah yang benar-benar terjadi namun mungkin tidak pernah kamu ambil peduli, sebelum kamu menemukan masa depan yang tidak kepastian lagi akan balam samarnya.
When change is absolute there remains no being to improve and no direction is set for possible improvement: and when experience is not retained, as among savages, infancy is perpetual. ~ George Santayana

No comments:

Post a Comment