Thursday, 21 June 2012

Serpihan Kaca

Serpihan kaca membentuk aksara,
tempias hujan berkecai segala,
terdetik ketika melirik suasana,
seandai suara bisa ditempa.

Sekira mereka tiada sempurna,
seandai mereka manusia biasa,
mengapa tiada toleransi cuma,
melahir fikiran, membuah bicara?

Sekira manusia, segala berbeda,
terpalit najis, setiap ketika,
mengapa prejudis kian berbusa,
seakan tiada salah silapnya.

Akar menjalar membina susuknya,
dipadu air, tanah dan udara,
segala manusia marhaen cuma,
saling menegur, ubat pastinya.

Resmi padi perlu dijaga,
semakin ranum, berbangga tiada,
lantas dipandang selaras bicara,
ketika luaran sekadar biasa. 

- Nazri Awang, Desa Pandan, 11.46pm, 21 June 2012.

1 comment: